Wednesday, January 23, 2019

Weekly News Tabloid - UrbaNow

This was my first group assignment for media publishing. I was mainly in-charge as designer, but I also concurrently became a reporter. I wrote for Hiburan, Resensi and Agenda. I designed the all the pages using Adobe Photoshop and Adobe InDesign.



Rekreasi Seru di Setu Babakan

A feature radio news program where I was in-charge as the radio announcer and audio editor.

24 Hours in Batavia

A day long city trip to some of the most famous landmarks and areas in Jakarta. I was in-charge for the story line, videography and video editing.

Social Campaign: Against Ageism

Instagram: @against.ageism

Against Ageism was a social campaign for a class final assignment (Social Welfare for Elderly). Its main purpose is to tackle stereotypes among fellow students about the elderly. I was in-charge for visual content (graphic design and video) and content writing. Below are some examples of my designs, video and statistics of the account (which showed that we have accomplished our target in a short amount of time -- 1 month).






 
 

ENTITAS - Gelmab FISIP UI 2015 (Komunikasi)

Gelmab FISIP UI is an annual performing arts competition for all freshmen in the Faculty of Social and Political Studies Universitas Indonesia. Freshmen of all majors (International Relations, Communication, Anthropology, Sociology, Politics and Social Welfare) will compete in a series of art battles (teaser, poster, exhibition, carnival) which then leads to the final and main performance of theater play.

I was in the costume team for my major, Communication, and was especially in-charge for the main singer's costume which is mainly featured on the teaser, carnival and the opening of the theater play.



Culture Trip: Festival Makanan Betawi

Featured on Televisi UI, February 28th 2018

Kemeriahan Dies Natalis UI

Featured on Televisi UI, November 14th 2018

UI Galakan Gerakan Nasional Nontunai

featured on Televisi UI, April 18th 2018


Menikah dan Kuliah



published on Radar Depok, December 20th 2017

Menikah muda memang menjadi suatu tren di masa sekarang, terutama di kalangan umat Muslim, sebab pernikahan dianggap sebagai jalan untuk menghindari perzinahan. Telah banyak kampanye-kampanye di media sosial yang mendorong kaum muda untuk segera menikah, seperti @gerakannikahmuda, @nikahasik dan @indonesiatanpapacaran. Bahkan, akun-akun seperti @sobatmuslimah dan @wanitasaleha mendorong perempuan Muslim untuk mempersiapkan diri menjadi calon isteri yang baik dan shaliha.

Pernikahan merupakan suatu keputusan besar, sebab dibutuhkan keberanian dan kesiapan dari berbagai aspek untuk mengambil tanggung jawab sebuah pernikahan. Namun, hal ini tidak menyurutkan kemantapan kedua mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini untuk menikah di usia muda dan menjalankan rumah tangga sembari kuliah. Vina Puspa Riani, mahasiswi jurusan Kriminologi, menikah pada bulan Juli lalu di usia 19 tahun, sedangkan Mundzir Amjad, mahasiswa jurusan Ilmu Politik, menikah pada bulan Juli tahun 2016 kemarin di usia yang sama.
            
“Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang panjang.”

Demikian Vina mengutip HR Turmudzi dan Ibnu Majah ketika ditanya soal alasan yang memantapkannya untuk menikah dengan suaminya sekarang, Hasanudin. Keduanya bertemu di acara Forum Remaja Masjid UI di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia pada Oktober 2016 lalu. Lalu di awal Januari tahun ini, sang suami mendatangi kediaman Vina untuk bertemu orang tuanya.

“Nggak pacaran samsek (sama sekali). Kita ta’aruf waktu itu, Alhamdulillah,” ujarnya. Dalam hukum Islam, berpacaran dinilai haram, sebab hal-hal yang dilakukan ketika berpacaran dikategorikan sebagai zina. Maka dari itu, tidak sedikit umat Muslim yang memilih jalur ta’aruf, dimana sang calon suami langsung meminta kepada keluarga perempuan untuk menikahinya dan melakukan perkenalan dengan didampingi keluarga kedua belah pihak.

Sama seperti Vina, Mundzir juga menjalani ta’aruf dengan isterinya. Ia pertama kali bertemu dengan sang isteri saat akad nikah. “Kita awalnya tukeran biodata, terus dapatnya orang Bandung. Nah, pakai sistem ta’aruf tadi. Jadi sebelum nikah, ngobrol-ngobrol dulu, nggak ketemu tapi. Cuma chat aja,” ujar Mundzir.

Salah satu hal utama yang menjadi dilema anak muda dalam menikah adalah karir (dalam hal ini kuliah). Komitmen yang dibutuhkan dalam berumah tangga sama tingginya dengan komitmen dalam membangun karir, sehingga mencapai keseimbangan antara kedua hal tersebut menjadi sangat sulit. Bagi Mundzir, dilema ini tidak menyurutkan niatnya, sebab ia dikuatkan oleh dukungan keluarga dan ajaran agamanya. Ia ingin menikah muda, bahkan sejak di bangku SMA, agar terhindar dari godaan untuk berbuat zina yang diharamkan dalam Islam. Di sisi lain, Vina tidak mengalami dilema serupa sebab ia telah menetapkan serangkaian prinsip terkait aspek karir dalam hidupnya yang tidak menjadi halangan baginya untuk menikah. “Jadi intinya sih, gue ada prinsip-prinsip terkait pilihan karir. Jadi nggak bertentangan sama kepentingan gue untuk menikah. Terus, gue sama suami saat ini, karena kuliah gue dan sebagainya, menunda program untuk punya anak dulu.”

Banyak perempuan yang beranggapan bahwa menikah adalah solusi untuk menghindari masalah-masalah dalam hidup, sebab pernikahan menjanjikan perlindungan dan keamanan dari berbagai aspek (spiritual, sosial, finansial). Tetapi menurut Vina, perempuan-perempuan yang memiliki niat semacam itu sebelum menikah justru keliru. “Kalau terkait masalah jadi lebih ringan atau kompleks menurut gue justru lebih kompleks, karena kita kan bakal lebih dihadapkan dengan realita kehidupan. Tapi yang terpenting kita komitmen buat sama-sama berjuang, ingat selalu niat awal kita nikah kenapa.”

Meskipun persoalan setelah berumah tangga lebih kompleks, terutama ketika dijalankan berbarengan dengan kuliah, Vina justru merasa terbantu sebab suaminya adalah lulusan FISIP UI yang berbeda dua angkatan dari Vina. Vina juga tetap termotivasi dalam komitmennya dengan sang suami ketika mengingat lagi visi rumah tangga mereka: membangun cinta, membangun surga dan menggapai ridha-Nya.

Vina yang mengagumi pasangan Rasulullah SAW dan Khadijah, serta Ali dan Fatimah pun memberikan kutipan berikut untuk merangkum kehidupan pernikahannya.

“Look, I know we have problems and that things aren’t perfect... but I love you and I would rather have an imperfect life with you than without you.”
(Lihat, aku tahu kita punya masalah dan tidak semuanya sempurna... tetapi aku mencintaimu dan aku lebih memilih untuk menjalani kehidupan yang tidak sempurna bersamamu daripada tanpamu.)

Lintas Gender Abad ke-20


published on 79th Gerbatama (Suara Mahasiswa bulletin), April 2016

Judul               : The Danish Girl
Sutradara         : Tom Hooper
Produser          : Tim Bevan, Eric Fellner, Anne Harrison, Tom Hooper, Gail Mutrux
Durasi              : 119 menit
Genre              : Drama/Romance/Biography
Tahun rilis       : 2015

LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) menjadi salah satu topik yang paling hangat dibicarakan beberapa tahun belakangan ini. Orientasi seksual yang termasuk dalam LGBT memang dianggap tidak lazim jika dilihat dari kacamata masyarakat umum. Sebagian orang percaya bahwa orientasi yang dianggap menyimpang tersebut dibawa sejak lahir. Beberapa orang memang memiliki kecenderungan untuk berorientasi tidak sesuai dengan gender yang seharusnya, tetapi bagaimana lingkungan dann media massa mempengaruhi mereka dan bagaimana mereka diperlakukanlah yang berpengaruh besar terhadap perkembangan kecenderungan tersebut
The Danish Girl menceritakan bagaimana seorang pelukis asal Denmark, Einar Wegener (Eddie Redmayne), berusaha mengungkapkan jati dirinya. Pada awalnya, Einar menutupi kecenderungan femininnya dan tampak seperti pria Eropa tahun 1920-an pada umumnya. Ketika suatu hari istrinya, Gerda (Alicia Vikander), memintanya untuk berpose sebagai figur perempuan untuk menggantikan model yang seharusnya berpose untuk lukisan yang sedang dikerjakan sang istri batal datang ke studio lukis mereka, sisi kewanitaan Einar kembali muncul. Sisi tersebut semakin muncul ketika keduanya sepakat untuk melakukan sebuah ‘permainan’ dimana Einar akan berpura-pura menjadi perempuan dalam sebuah pesta dansa. ‘Permainan’ tersebut menjadi realita pahit ketika pada malam itu Einar, yang menyebut dirinya Lili Elbe, berciuman dengan salah satu tamu pesta tersebut.
Kejadian itu mengakibatkan ketegangan dalam hubungan Einar dengan istrinya. Ia pun semakin frustasi dengan dirinya yang tidak dapat mengontrol kemunculan sosok Lili yang semakin sering. Gerda mencari pertolongan berbagai dokter dalam usahanya ‘menyembuhkan’ sang suami, tetapi tidak ada yang dapat memberikan hasil yang ia harapkan. Kemarahan Gerda terhadap Einar berubah menjadi rasa kasihan. Ia pun berusaha menerima perubahan sang suami menjadi seorang ‘Lili’.
Harapan Einar/Lili untuk menjadi wanita seutuhnya semakin kuat. Ketika Gerda menyelenggarakan pameran lukisan–dengan sosok ‘Lili’ sebagai karakter utamanya–di Paris, keduanya bertemu dengan Hans Axgil (Matthias Schoenaerts), teman masa kecil Einar yang juga mengetahui sosok Lili. Melihat kondisi teman masa kecilnya tersebut, ia merekomendasikan seorang dokter bedah yang sudah sering menangani kasus serupa dengan Einar, Dr. Kurt Warnerkros (Sebastian Koch). Operasi penggantian alat kelamin yang ditawarkan oleh Dr. Warnerkros segera disetujui Lili dengan antusias, meskipun kematian menjadi resikonya. Pada masa itu, ahli dan teknologi yang tersedia tidak cukup memadai untuk operasi semacam itu.
Meskipun berat, Gerda akhirnya menerima kehilangan suaminya yang digantikan oleh sosok seorang Lili. Gerda menyadari bahwa sosok tersebut bukan lagi pria yang dulu menikah dengannya. Dengan teguh, ia memilih untuk berada di sisi Lili selama masa-masa kritisnya menjalani operasi dan memulai kehidupan sebagai seorang wanita. Lili berhasil bertahan pada operasi tahap pertamanya. Hubungannya dengan Gerda berkembang menjadi sabahat baik. Ia pun semakin optimis akan kesempatannya untuk menjadi wanita yang seutuhnya. Sayangnya, Lili tidak dapat bertahan pada operasi terakhirnya.
Film yang disutradarai Tom Hooper ini memiliki plot yang menarik karena mengambil latar belakang di tahun 1920an, dimana kasus-kasus perubahan orientasi seperti yang dialami Einar/Lili belum lazim dibicarakan. Meskipun film yang terinspirasi dari kisah nyata ini tidak menceritakan secara detil bagaimana dan/atau mengapa sosok Lili muncul dalam diri Einar, tetapi film ini telah berhasil mengisahkan perdebatan identitas Einar dengan adanya sosok Lili dalam dirinya. Selain itu, film ini juga tidak menggambarkan tekanan sosial dari masyarakat terhadap sosok Lili karena ia menutupi kenyataan tersebut dengan rapi. Ketika ia menjadi Lili, orang-orang akna melihatnya sebagai wanita biasa, begitu pula sebaliknya ketika ia tampil sebagai Einar. Hanya beberapa orang terdekat dan dokter saja yang mengetahui keadaannya. Akting sang pemeran utama yang meyakinkan dan menyentuh dapat dilihat dari keberhasilannya memainkan sosok wanita, didukung dengan ekspresi wajahnya yang cenderung ‘dreamy’.
Namun, beberapa adegan terasa datar, dimana ekspresi yang ditampilkan para aktor tidak cukup untuk menyampaikan makna adegan dan dibutuhkan beberapa dialog tambahan untuk memperjelas adegan. Hal ini menyebabkan adanya detil-detil yang terasa ‘hilang’ seusai menonton film. Sayangnya, film yang dirilis tahun 2015 ini tidak lolos untuk ditayangkan di sejumlah negara seperti Qatar, Saudi Arabia, Oman, Bahrain, Jordan, Kuwait, dan Malaysia karena dinilai cukup vulgar, provokatif, dan bertentangan dengan nilai-nilai yang dipegang negara-negara tersebut.

"When" is Actually a Process

published on Ziliun, June 2017

Kita percaya bahwa kita lahir bukan tanpa alasan. Ada peran tertentu yang harus kita laksanakan. Sayangnya, kita tidak selalu tahu peran seperti apa yang perlu kita jalankan untuk bisa membuat hidup kita bermanfaat bagi orang lain dan tidak sia-sia. Peran itu harus kita tebak-tebak sendiri apa dan bagaimana menjalankannya. Yang jelas, peran itulah yang menjadi tujuan hidup kita.
Pertanyaannya, kapan kira-kira kita bisa mendapat gambaran utuh tentang tujuan hidup kita?

Jawabannya: KAPAN-KAPAN

Sebagian orang lebih diberkati daripada yang lain karena sejak kecil pun sudah menunjukkan tanda-tanda “ke mana” ia mau mengarahkan hidupnya, sehingga orang tuanya pun bisa memfasilitasi anak mereka dengan segudang les sesuai dengan minatnya. Sebagian lagi terinspirasi dari mata pelajaran tertentu di sekolah, mengambil jurusan serupa saat kuliah, lalu mengambil profesi sesuai prospek jurusannya. Tapi, sebagian lagi masih “bengong” setelah menyabet gelar S1. Sebagian lagi mulai kehilangan gairah di tengah rutinitas di atas meja, di depan layar komputer, yang telah dijalaninya selama lebih dari satu dekade. Sebagian lainnya menjalani jutaan profesi yang tersedia untuk mengepulkan asap di dapur sambil berharap suatu saat nanti ia dapat benar-benar mencintai pekerjaannya.

Pertama-tama, mari kita samakan persepsi kita tentang tujuan hidup. Tujuan hidup bukanlah pekerjaan apa yang ingin kita lakukan atau sederet goals yang sekiranya bisa membuat kita “bahagia”, itu semua hanya sebagian wujud nyata dari tujuan hidup. Mencari tujuan hidup adalah mencari visi, misi dan prinsip hidup. Proses pencarian ini tidak dapat diukur atau diprediksi waktu selesainya, sebab pencarian ini merupakan bagian dari pencarian jati diri yang, seperti kita telah ketahui, membutuhkan proses yang berbeda-beda bagi setiap orang.

Pertanyaannya, bagaimana saya tahu kalau itu tujuan hidup saya?

Kamu akan dengan tanpa ragu menjawab pertanyaan, “Kenapa saya berada disini?” sebab kamu akan memiliki alasan yang kuat untuk tetap memperjuangkan apa yang kamu anggap sebagai tujuan hidup kamu tersebut, bahkan meskipun kamu tidak dibayar. Thomas Alva Edison bahkan harus melalui 1000 kegagalan untuk akhirnya menghasilkan penemuan telepon yang fenomenal. Kegagalan tersebut tidak menjadi alasan baginya untuk melanjutkan apa yang menjadi passion-nya.

Nah, pertanyaan terakhir, bagaimana caranya saya mencari tujuan hidup saya?

The Backstage: Taking Youth Potential to the Next Level hadir bagi kalian yang mungkin masih “kabur” tentang tujuan hidup kalian, meragukan pekerjaan kalian sekarang atau bahkan ingin memulai sesuatu yang benar-benar baru. Kalian akan berkesempatan untuk ‘ngobrol-ngrobrol asik’ dengan Yansen Kamto (Chief Executive, KIBAR), Vidi Aldiano (Founder, Krowd) dan Putri Tanjung (Founder, Creativepreneur Event Creator) pada Selasa, 20 Juni 2017 nanti dan belajar bagaimana para creative founder ini menemukan tujuan hidup mereka dan menghasilkan manfaat dari visi mereka. Untuk ikutan, registrasi di: ziliun.com/backstage


© BTARI NADINE
Maira Gall