This was my first group assignment for media publishing. I was mainly in-charge as designer, but I also concurrently became a reporter. I wrote for Hiburan, Resensi and Agenda. I designed the all the pages using Adobe Photoshop and Adobe InDesign.
Rekreasi Seru di Setu Babakan
A feature radio news program where I was in-charge as the radio announcer and audio editor.
24 Hours in Batavia
A day long city trip to some of the most famous landmarks and areas in Jakarta. I was in-charge for the story line, videography and video editing.
Social Campaign: Against Ageism
Instagram: @against.ageism
Against Ageism was a social campaign for a class final assignment (Social Welfare for Elderly). Its main purpose is to tackle stereotypes among fellow students about the elderly. I was in-charge for visual content (graphic design and video) and content writing. Below are some examples of my designs, video and statistics of the account (which showed that we have accomplished our target in a short amount of time -- 1 month).


Against Ageism was a social campaign for a class final assignment (Social Welfare for Elderly). Its main purpose is to tackle stereotypes among fellow students about the elderly. I was in-charge for visual content (graphic design and video) and content writing. Below are some examples of my designs, video and statistics of the account (which showed that we have accomplished our target in a short amount of time -- 1 month).


ENTITAS - Gelmab FISIP UI 2015 (Komunikasi)
Gelmab FISIP UI is an annual performing arts competition for all freshmen in the Faculty of Social and Political Studies Universitas Indonesia. Freshmen of all majors (International Relations, Communication, Anthropology, Sociology, Politics and Social Welfare) will compete in a series of art battles (teaser, poster, exhibition, carnival) which then leads to the final and main performance of theater play.
I was in the costume team for my major, Communication, and was especially in-charge for the main singer's costume which is mainly featured on the teaser, carnival and the opening of the theater play.
I was in the costume team for my major, Communication, and was especially in-charge for the main singer's costume which is mainly featured on the teaser, carnival and the opening of the theater play.
Menikah dan Kuliah
published on Radar Depok, December 20th 2017
Menikah muda memang menjadi suatu tren di masa sekarang,
terutama di kalangan umat Muslim, sebab pernikahan dianggap sebagai jalan untuk
menghindari perzinahan. Telah banyak kampanye-kampanye di media sosial yang
mendorong kaum muda untuk segera menikah, seperti @gerakannikahmuda, @nikahasik
dan @indonesiatanpapacaran. Bahkan, akun-akun seperti @sobatmuslimah dan
@wanitasaleha mendorong perempuan Muslim untuk mempersiapkan diri menjadi calon
isteri yang baik dan shaliha.
Pernikahan merupakan suatu keputusan besar, sebab
dibutuhkan keberanian dan kesiapan dari berbagai aspek untuk mengambil tanggung
jawab sebuah pernikahan. Namun, hal ini tidak menyurutkan kemantapan kedua
mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini untuk
menikah di usia muda dan menjalankan rumah tangga sembari kuliah. Vina Puspa
Riani, mahasiswi jurusan Kriminologi, menikah pada bulan Juli lalu di usia 19
tahun, sedangkan Mundzir Amjad, mahasiswa jurusan Ilmu Politik, menikah pada
bulan Juli tahun 2016 kemarin di usia yang sama.
“Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan
akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah
di muka bumi dan kerusakan yang panjang.”
Demikian
Vina mengutip HR Turmudzi dan Ibnu Majah ketika ditanya soal alasan yang
memantapkannya untuk menikah dengan suaminya sekarang, Hasanudin. Keduanya
bertemu di acara Forum Remaja Masjid UI di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia pada Oktober 2016 lalu. Lalu di awal Januari tahun ini,
sang suami mendatangi kediaman Vina untuk bertemu orang tuanya.
“Nggak
pacaran samsek (sama sekali). Kita ta’aruf waktu itu, Alhamdulillah,” ujarnya.
Dalam hukum Islam, berpacaran dinilai haram, sebab hal-hal yang dilakukan
ketika berpacaran dikategorikan sebagai zina. Maka dari itu, tidak sedikit umat
Muslim yang memilih jalur ta’aruf, dimana sang calon suami langsung meminta
kepada keluarga perempuan untuk menikahinya dan melakukan perkenalan dengan
didampingi keluarga kedua belah pihak.
Sama
seperti Vina, Mundzir juga menjalani ta’aruf dengan isterinya. Ia pertama kali
bertemu dengan sang isteri saat akad nikah. “Kita awalnya tukeran biodata,
terus dapatnya orang Bandung. Nah, pakai sistem ta’aruf tadi. Jadi sebelum
nikah, ngobrol-ngobrol dulu, nggak ketemu tapi. Cuma chat aja,” ujar Mundzir.
Salah satu hal utama yang menjadi dilema anak muda dalam
menikah adalah karir (dalam hal ini kuliah). Komitmen yang dibutuhkan dalam
berumah tangga sama tingginya dengan komitmen dalam membangun karir, sehingga
mencapai keseimbangan antara kedua hal tersebut menjadi sangat sulit. Bagi
Mundzir, dilema ini tidak menyurutkan niatnya, sebab ia dikuatkan oleh dukungan
keluarga dan ajaran agamanya. Ia ingin menikah muda, bahkan sejak di bangku
SMA, agar terhindar dari godaan untuk berbuat zina yang diharamkan dalam Islam.
Di sisi lain, Vina tidak mengalami dilema serupa sebab ia telah menetapkan
serangkaian prinsip terkait aspek karir dalam hidupnya yang tidak menjadi halangan
baginya untuk menikah. “Jadi intinya sih, gue ada prinsip-prinsip terkait
pilihan karir. Jadi nggak bertentangan sama kepentingan gue untuk menikah.
Terus, gue sama suami saat ini, karena kuliah gue dan sebagainya, menunda
program untuk punya anak dulu.”
Banyak
perempuan yang beranggapan bahwa menikah adalah solusi untuk menghindari
masalah-masalah dalam hidup, sebab pernikahan menjanjikan perlindungan dan
keamanan dari berbagai aspek (spiritual, sosial, finansial). Tetapi menurut
Vina, perempuan-perempuan yang memiliki niat semacam itu sebelum menikah justru
keliru. “Kalau terkait masalah jadi lebih ringan atau kompleks menurut gue
justru lebih kompleks, karena kita kan bakal lebih dihadapkan dengan realita
kehidupan. Tapi yang terpenting kita komitmen buat sama-sama berjuang, ingat
selalu niat awal kita nikah kenapa.”
Meskipun
persoalan setelah berumah tangga lebih kompleks, terutama ketika dijalankan
berbarengan dengan kuliah, Vina justru merasa terbantu sebab suaminya adalah
lulusan FISIP UI yang berbeda dua angkatan dari Vina. Vina juga tetap
termotivasi dalam komitmennya dengan sang suami ketika mengingat lagi visi
rumah tangga mereka: membangun cinta, membangun surga dan menggapai ridha-Nya.
Vina yang mengagumi
pasangan Rasulullah SAW dan
Khadijah, serta Ali dan
Fatimah pun memberikan kutipan berikut untuk merangkum kehidupan pernikahannya.
“Look,
I know we have problems and that things aren’t perfect... but I love you and I
would rather have an imperfect life with you than without you.”
(Lihat, aku tahu kita
punya masalah dan tidak semuanya sempurna... tetapi aku mencintaimu dan aku
lebih memilih untuk menjalani kehidupan yang tidak sempurna bersamamu daripada
tanpamu.)
Lintas Gender Abad ke-20
published on 79th Gerbatama (Suara Mahasiswa bulletin), April
2016
Judul : The Danish Girl
Sutradara : Tom Hooper
Produser : Tim Bevan, Eric Fellner, Anne
Harrison, Tom Hooper, Gail Mutrux
Durasi : 119 menit
Genre : Drama/Romance/Biography
Tahun
rilis : 2015
LGBT
(Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) menjadi salah satu topik yang paling
hangat dibicarakan beberapa tahun belakangan ini. Orientasi seksual yang
termasuk dalam LGBT memang dianggap tidak lazim jika dilihat dari kacamata
masyarakat umum. Sebagian orang percaya bahwa orientasi yang dianggap
menyimpang tersebut dibawa sejak lahir. Beberapa orang memang memiliki
kecenderungan untuk berorientasi tidak sesuai dengan gender yang seharusnya,
tetapi bagaimana lingkungan dann media massa mempengaruhi mereka dan bagaimana
mereka diperlakukanlah yang berpengaruh besar terhadap perkembangan
kecenderungan tersebut
The
Danish Girl menceritakan bagaimana seorang pelukis asal Denmark, Einar Wegener
(Eddie Redmayne), berusaha mengungkapkan jati dirinya. Pada awalnya, Einar
menutupi kecenderungan femininnya dan tampak seperti pria Eropa tahun 1920-an
pada umumnya. Ketika suatu hari istrinya, Gerda (Alicia Vikander), memintanya
untuk berpose sebagai figur perempuan untuk menggantikan model yang seharusnya
berpose untuk lukisan yang sedang dikerjakan sang istri batal datang ke studio
lukis mereka, sisi kewanitaan Einar kembali muncul. Sisi tersebut semakin
muncul ketika keduanya sepakat untuk melakukan sebuah ‘permainan’ dimana Einar
akan berpura-pura menjadi perempuan dalam sebuah pesta dansa. ‘Permainan’
tersebut menjadi realita pahit ketika pada malam itu Einar, yang menyebut
dirinya Lili Elbe, berciuman dengan salah satu tamu pesta tersebut.
Kejadian
itu mengakibatkan ketegangan dalam hubungan Einar dengan istrinya. Ia pun
semakin frustasi dengan dirinya yang tidak dapat mengontrol kemunculan sosok
Lili yang semakin sering. Gerda mencari pertolongan berbagai dokter dalam
usahanya ‘menyembuhkan’ sang suami, tetapi tidak ada yang dapat memberikan hasil
yang ia harapkan. Kemarahan Gerda terhadap Einar berubah menjadi rasa kasihan.
Ia pun berusaha menerima perubahan sang suami menjadi seorang ‘Lili’.
Harapan
Einar/Lili untuk menjadi wanita seutuhnya semakin kuat. Ketika Gerda
menyelenggarakan pameran lukisan–dengan sosok ‘Lili’ sebagai karakter
utamanya–di Paris, keduanya bertemu dengan Hans Axgil (Matthias Schoenaerts),
teman masa kecil Einar yang juga mengetahui sosok Lili. Melihat kondisi teman
masa kecilnya tersebut, ia merekomendasikan seorang dokter bedah yang sudah
sering menangani kasus serupa dengan Einar, Dr. Kurt Warnerkros (Sebastian
Koch). Operasi penggantian alat kelamin yang ditawarkan oleh Dr. Warnerkros
segera disetujui Lili dengan antusias, meskipun kematian menjadi resikonya.
Pada masa itu, ahli dan teknologi yang tersedia tidak cukup memadai untuk
operasi semacam itu.
Meskipun
berat, Gerda akhirnya menerima kehilangan suaminya yang digantikan oleh sosok
seorang Lili. Gerda menyadari bahwa sosok tersebut bukan lagi pria yang dulu
menikah dengannya. Dengan teguh, ia memilih untuk berada di sisi Lili selama
masa-masa kritisnya menjalani operasi dan memulai kehidupan sebagai seorang wanita.
Lili berhasil bertahan pada operasi tahap pertamanya. Hubungannya dengan Gerda
berkembang menjadi sabahat baik. Ia pun semakin optimis akan kesempatannya
untuk menjadi wanita yang seutuhnya. Sayangnya, Lili tidak dapat bertahan pada
operasi terakhirnya.
Film
yang disutradarai Tom Hooper ini memiliki plot yang menarik karena mengambil
latar belakang di tahun 1920an, dimana kasus-kasus perubahan orientasi seperti
yang dialami Einar/Lili belum lazim dibicarakan. Meskipun film yang
terinspirasi dari kisah nyata ini tidak menceritakan secara detil bagaimana
dan/atau mengapa sosok Lili muncul dalam diri Einar, tetapi film ini telah
berhasil mengisahkan perdebatan identitas Einar dengan adanya sosok Lili dalam
dirinya. Selain itu, film ini juga tidak menggambarkan tekanan sosial dari
masyarakat terhadap sosok Lili karena ia menutupi kenyataan tersebut dengan
rapi. Ketika ia menjadi Lili, orang-orang akna melihatnya sebagai wanita biasa,
begitu pula sebaliknya ketika ia tampil sebagai Einar. Hanya beberapa orang
terdekat dan dokter saja yang mengetahui keadaannya. Akting sang pemeran utama
yang meyakinkan dan menyentuh dapat dilihat dari keberhasilannya memainkan
sosok wanita, didukung dengan ekspresi wajahnya yang cenderung ‘dreamy’.
Namun, beberapa adegan
terasa datar, dimana ekspresi yang ditampilkan para aktor tidak cukup untuk
menyampaikan makna adegan dan dibutuhkan beberapa dialog tambahan untuk
memperjelas adegan. Hal ini menyebabkan adanya detil-detil yang terasa ‘hilang’
seusai menonton film. Sayangnya, film yang dirilis tahun 2015 ini tidak lolos
untuk ditayangkan di sejumlah negara seperti Qatar, Saudi Arabia, Oman,
Bahrain, Jordan, Kuwait, dan Malaysia karena dinilai cukup vulgar, provokatif,
dan bertentangan dengan nilai-nilai yang dipegang negara-negara tersebut.
"When" is Actually a Process
published on Ziliun, June 2017
Kita
percaya bahwa kita lahir bukan tanpa alasan. Ada peran tertentu yang harus kita
laksanakan. Sayangnya, kita tidak selalu tahu peran seperti apa yang perlu kita
jalankan untuk bisa membuat hidup kita bermanfaat bagi orang lain dan tidak
sia-sia. Peran itu harus kita tebak-tebak sendiri apa dan bagaimana
menjalankannya. Yang jelas, peran itulah yang menjadi tujuan hidup kita.
Pertanyaannya, kapan
kira-kira kita bisa mendapat gambaran utuh tentang tujuan hidup kita?
Jawabannya: KAPAN-KAPAN
Sebagian
orang lebih diberkati daripada yang lain karena sejak kecil pun sudah
menunjukkan tanda-tanda “ke mana” ia mau mengarahkan hidupnya, sehingga orang
tuanya pun bisa memfasilitasi anak mereka dengan segudang les sesuai dengan
minatnya. Sebagian lagi terinspirasi dari mata pelajaran tertentu di sekolah,
mengambil jurusan serupa saat kuliah, lalu mengambil profesi sesuai prospek
jurusannya. Tapi, sebagian lagi masih “bengong” setelah menyabet gelar S1.
Sebagian lagi mulai kehilangan gairah di tengah rutinitas di atas meja, di
depan layar komputer, yang telah dijalaninya selama lebih dari satu dekade.
Sebagian lainnya menjalani jutaan profesi yang tersedia untuk mengepulkan asap
di dapur sambil berharap suatu saat nanti ia dapat benar-benar mencintai
pekerjaannya.
Pertama-tama,
mari kita samakan persepsi kita tentang tujuan hidup. Tujuan hidup bukanlah
pekerjaan apa yang ingin kita lakukan atau sederet goals yang sekiranya bisa
membuat kita “bahagia”, itu semua hanya sebagian wujud nyata dari tujuan hidup.
Mencari tujuan hidup adalah mencari visi, misi dan prinsip hidup. Proses
pencarian ini tidak dapat diukur atau diprediksi waktu selesainya, sebab
pencarian ini merupakan bagian dari pencarian jati diri yang, seperti kita
telah ketahui, membutuhkan proses yang berbeda-beda bagi setiap orang.
Pertanyaannya, bagaimana
saya tahu kalau itu tujuan hidup saya?
Kamu
akan dengan tanpa ragu menjawab pertanyaan, “Kenapa saya berada disini?” sebab
kamu akan memiliki alasan yang kuat untuk tetap memperjuangkan apa yang kamu
anggap sebagai tujuan hidup kamu tersebut, bahkan meskipun kamu tidak dibayar.
Thomas Alva Edison bahkan harus melalui 1000 kegagalan untuk akhirnya
menghasilkan penemuan telepon yang fenomenal. Kegagalan tersebut tidak menjadi
alasan baginya untuk melanjutkan apa yang menjadi passion-nya.
Nah,
pertanyaan terakhir, bagaimana caranya saya mencari tujuan hidup
saya?
The Backstage: Taking Youth
Potential to the Next Level hadir bagi kalian
yang mungkin masih “kabur” tentang tujuan hidup kalian, meragukan pekerjaan
kalian sekarang atau bahkan ingin memulai sesuatu yang benar-benar baru. Kalian
akan berkesempatan untuk ‘ngobrol-ngrobrol asik’ dengan Yansen Kamto (Chief
Executive, KIBAR), Vidi
Aldiano (Founder, Krowd) dan Putri
Tanjung (Founder, Creativepreneur Event
Creator) pada Selasa, 20 Juni 2017 nanti dan belajar bagaimana
para creative founder ini menemukan tujuan hidup mereka dan menghasilkan
manfaat dari visi mereka. Untuk ikutan, registrasi di: ziliun.com/backstage
Subscribe to:
Posts (Atom)




