published on 79th Gerbatama (Suara Mahasiswa bulletin), April
2016
Judul : The Danish Girl
Sutradara : Tom Hooper
Produser : Tim Bevan, Eric Fellner, Anne
Harrison, Tom Hooper, Gail Mutrux
Durasi : 119 menit
Genre : Drama/Romance/Biography
Tahun
rilis : 2015
LGBT
(Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) menjadi salah satu topik yang paling
hangat dibicarakan beberapa tahun belakangan ini. Orientasi seksual yang
termasuk dalam LGBT memang dianggap tidak lazim jika dilihat dari kacamata
masyarakat umum. Sebagian orang percaya bahwa orientasi yang dianggap
menyimpang tersebut dibawa sejak lahir. Beberapa orang memang memiliki
kecenderungan untuk berorientasi tidak sesuai dengan gender yang seharusnya,
tetapi bagaimana lingkungan dann media massa mempengaruhi mereka dan bagaimana
mereka diperlakukanlah yang berpengaruh besar terhadap perkembangan
kecenderungan tersebut
The
Danish Girl menceritakan bagaimana seorang pelukis asal Denmark, Einar Wegener
(Eddie Redmayne), berusaha mengungkapkan jati dirinya. Pada awalnya, Einar
menutupi kecenderungan femininnya dan tampak seperti pria Eropa tahun 1920-an
pada umumnya. Ketika suatu hari istrinya, Gerda (Alicia Vikander), memintanya
untuk berpose sebagai figur perempuan untuk menggantikan model yang seharusnya
berpose untuk lukisan yang sedang dikerjakan sang istri batal datang ke studio
lukis mereka, sisi kewanitaan Einar kembali muncul. Sisi tersebut semakin
muncul ketika keduanya sepakat untuk melakukan sebuah ‘permainan’ dimana Einar
akan berpura-pura menjadi perempuan dalam sebuah pesta dansa. ‘Permainan’
tersebut menjadi realita pahit ketika pada malam itu Einar, yang menyebut
dirinya Lili Elbe, berciuman dengan salah satu tamu pesta tersebut.
Kejadian
itu mengakibatkan ketegangan dalam hubungan Einar dengan istrinya. Ia pun
semakin frustasi dengan dirinya yang tidak dapat mengontrol kemunculan sosok
Lili yang semakin sering. Gerda mencari pertolongan berbagai dokter dalam
usahanya ‘menyembuhkan’ sang suami, tetapi tidak ada yang dapat memberikan hasil
yang ia harapkan. Kemarahan Gerda terhadap Einar berubah menjadi rasa kasihan.
Ia pun berusaha menerima perubahan sang suami menjadi seorang ‘Lili’.
Harapan
Einar/Lili untuk menjadi wanita seutuhnya semakin kuat. Ketika Gerda
menyelenggarakan pameran lukisan–dengan sosok ‘Lili’ sebagai karakter
utamanya–di Paris, keduanya bertemu dengan Hans Axgil (Matthias Schoenaerts),
teman masa kecil Einar yang juga mengetahui sosok Lili. Melihat kondisi teman
masa kecilnya tersebut, ia merekomendasikan seorang dokter bedah yang sudah
sering menangani kasus serupa dengan Einar, Dr. Kurt Warnerkros (Sebastian
Koch). Operasi penggantian alat kelamin yang ditawarkan oleh Dr. Warnerkros
segera disetujui Lili dengan antusias, meskipun kematian menjadi resikonya.
Pada masa itu, ahli dan teknologi yang tersedia tidak cukup memadai untuk
operasi semacam itu.
Meskipun
berat, Gerda akhirnya menerima kehilangan suaminya yang digantikan oleh sosok
seorang Lili. Gerda menyadari bahwa sosok tersebut bukan lagi pria yang dulu
menikah dengannya. Dengan teguh, ia memilih untuk berada di sisi Lili selama
masa-masa kritisnya menjalani operasi dan memulai kehidupan sebagai seorang wanita.
Lili berhasil bertahan pada operasi tahap pertamanya. Hubungannya dengan Gerda
berkembang menjadi sabahat baik. Ia pun semakin optimis akan kesempatannya
untuk menjadi wanita yang seutuhnya. Sayangnya, Lili tidak dapat bertahan pada
operasi terakhirnya.
Film
yang disutradarai Tom Hooper ini memiliki plot yang menarik karena mengambil
latar belakang di tahun 1920an, dimana kasus-kasus perubahan orientasi seperti
yang dialami Einar/Lili belum lazim dibicarakan. Meskipun film yang
terinspirasi dari kisah nyata ini tidak menceritakan secara detil bagaimana
dan/atau mengapa sosok Lili muncul dalam diri Einar, tetapi film ini telah
berhasil mengisahkan perdebatan identitas Einar dengan adanya sosok Lili dalam
dirinya. Selain itu, film ini juga tidak menggambarkan tekanan sosial dari
masyarakat terhadap sosok Lili karena ia menutupi kenyataan tersebut dengan
rapi. Ketika ia menjadi Lili, orang-orang akna melihatnya sebagai wanita biasa,
begitu pula sebaliknya ketika ia tampil sebagai Einar. Hanya beberapa orang
terdekat dan dokter saja yang mengetahui keadaannya. Akting sang pemeran utama
yang meyakinkan dan menyentuh dapat dilihat dari keberhasilannya memainkan
sosok wanita, didukung dengan ekspresi wajahnya yang cenderung ‘dreamy’.
Namun, beberapa adegan
terasa datar, dimana ekspresi yang ditampilkan para aktor tidak cukup untuk
menyampaikan makna adegan dan dibutuhkan beberapa dialog tambahan untuk
memperjelas adegan. Hal ini menyebabkan adanya detil-detil yang terasa ‘hilang’
seusai menonton film. Sayangnya, film yang dirilis tahun 2015 ini tidak lolos
untuk ditayangkan di sejumlah negara seperti Qatar, Saudi Arabia, Oman,
Bahrain, Jordan, Kuwait, dan Malaysia karena dinilai cukup vulgar, provokatif,
dan bertentangan dengan nilai-nilai yang dipegang negara-negara tersebut.

No comments
Post a Comment