Wednesday, January 23, 2019

Lintas Gender Abad ke-20


published on 79th Gerbatama (Suara Mahasiswa bulletin), April 2016

Judul               : The Danish Girl
Sutradara         : Tom Hooper
Produser          : Tim Bevan, Eric Fellner, Anne Harrison, Tom Hooper, Gail Mutrux
Durasi              : 119 menit
Genre              : Drama/Romance/Biography
Tahun rilis       : 2015

LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) menjadi salah satu topik yang paling hangat dibicarakan beberapa tahun belakangan ini. Orientasi seksual yang termasuk dalam LGBT memang dianggap tidak lazim jika dilihat dari kacamata masyarakat umum. Sebagian orang percaya bahwa orientasi yang dianggap menyimpang tersebut dibawa sejak lahir. Beberapa orang memang memiliki kecenderungan untuk berorientasi tidak sesuai dengan gender yang seharusnya, tetapi bagaimana lingkungan dann media massa mempengaruhi mereka dan bagaimana mereka diperlakukanlah yang berpengaruh besar terhadap perkembangan kecenderungan tersebut
The Danish Girl menceritakan bagaimana seorang pelukis asal Denmark, Einar Wegener (Eddie Redmayne), berusaha mengungkapkan jati dirinya. Pada awalnya, Einar menutupi kecenderungan femininnya dan tampak seperti pria Eropa tahun 1920-an pada umumnya. Ketika suatu hari istrinya, Gerda (Alicia Vikander), memintanya untuk berpose sebagai figur perempuan untuk menggantikan model yang seharusnya berpose untuk lukisan yang sedang dikerjakan sang istri batal datang ke studio lukis mereka, sisi kewanitaan Einar kembali muncul. Sisi tersebut semakin muncul ketika keduanya sepakat untuk melakukan sebuah ‘permainan’ dimana Einar akan berpura-pura menjadi perempuan dalam sebuah pesta dansa. ‘Permainan’ tersebut menjadi realita pahit ketika pada malam itu Einar, yang menyebut dirinya Lili Elbe, berciuman dengan salah satu tamu pesta tersebut.
Kejadian itu mengakibatkan ketegangan dalam hubungan Einar dengan istrinya. Ia pun semakin frustasi dengan dirinya yang tidak dapat mengontrol kemunculan sosok Lili yang semakin sering. Gerda mencari pertolongan berbagai dokter dalam usahanya ‘menyembuhkan’ sang suami, tetapi tidak ada yang dapat memberikan hasil yang ia harapkan. Kemarahan Gerda terhadap Einar berubah menjadi rasa kasihan. Ia pun berusaha menerima perubahan sang suami menjadi seorang ‘Lili’.
Harapan Einar/Lili untuk menjadi wanita seutuhnya semakin kuat. Ketika Gerda menyelenggarakan pameran lukisan–dengan sosok ‘Lili’ sebagai karakter utamanya–di Paris, keduanya bertemu dengan Hans Axgil (Matthias Schoenaerts), teman masa kecil Einar yang juga mengetahui sosok Lili. Melihat kondisi teman masa kecilnya tersebut, ia merekomendasikan seorang dokter bedah yang sudah sering menangani kasus serupa dengan Einar, Dr. Kurt Warnerkros (Sebastian Koch). Operasi penggantian alat kelamin yang ditawarkan oleh Dr. Warnerkros segera disetujui Lili dengan antusias, meskipun kematian menjadi resikonya. Pada masa itu, ahli dan teknologi yang tersedia tidak cukup memadai untuk operasi semacam itu.
Meskipun berat, Gerda akhirnya menerima kehilangan suaminya yang digantikan oleh sosok seorang Lili. Gerda menyadari bahwa sosok tersebut bukan lagi pria yang dulu menikah dengannya. Dengan teguh, ia memilih untuk berada di sisi Lili selama masa-masa kritisnya menjalani operasi dan memulai kehidupan sebagai seorang wanita. Lili berhasil bertahan pada operasi tahap pertamanya. Hubungannya dengan Gerda berkembang menjadi sabahat baik. Ia pun semakin optimis akan kesempatannya untuk menjadi wanita yang seutuhnya. Sayangnya, Lili tidak dapat bertahan pada operasi terakhirnya.
Film yang disutradarai Tom Hooper ini memiliki plot yang menarik karena mengambil latar belakang di tahun 1920an, dimana kasus-kasus perubahan orientasi seperti yang dialami Einar/Lili belum lazim dibicarakan. Meskipun film yang terinspirasi dari kisah nyata ini tidak menceritakan secara detil bagaimana dan/atau mengapa sosok Lili muncul dalam diri Einar, tetapi film ini telah berhasil mengisahkan perdebatan identitas Einar dengan adanya sosok Lili dalam dirinya. Selain itu, film ini juga tidak menggambarkan tekanan sosial dari masyarakat terhadap sosok Lili karena ia menutupi kenyataan tersebut dengan rapi. Ketika ia menjadi Lili, orang-orang akna melihatnya sebagai wanita biasa, begitu pula sebaliknya ketika ia tampil sebagai Einar. Hanya beberapa orang terdekat dan dokter saja yang mengetahui keadaannya. Akting sang pemeran utama yang meyakinkan dan menyentuh dapat dilihat dari keberhasilannya memainkan sosok wanita, didukung dengan ekspresi wajahnya yang cenderung ‘dreamy’.
Namun, beberapa adegan terasa datar, dimana ekspresi yang ditampilkan para aktor tidak cukup untuk menyampaikan makna adegan dan dibutuhkan beberapa dialog tambahan untuk memperjelas adegan. Hal ini menyebabkan adanya detil-detil yang terasa ‘hilang’ seusai menonton film. Sayangnya, film yang dirilis tahun 2015 ini tidak lolos untuk ditayangkan di sejumlah negara seperti Qatar, Saudi Arabia, Oman, Bahrain, Jordan, Kuwait, dan Malaysia karena dinilai cukup vulgar, provokatif, dan bertentangan dengan nilai-nilai yang dipegang negara-negara tersebut.

No comments

Post a Comment

© BTARI NADINE
Maira Gall