Wednesday, January 23, 2019

Menikah dan Kuliah



published on Radar Depok, December 20th 2017

Menikah muda memang menjadi suatu tren di masa sekarang, terutama di kalangan umat Muslim, sebab pernikahan dianggap sebagai jalan untuk menghindari perzinahan. Telah banyak kampanye-kampanye di media sosial yang mendorong kaum muda untuk segera menikah, seperti @gerakannikahmuda, @nikahasik dan @indonesiatanpapacaran. Bahkan, akun-akun seperti @sobatmuslimah dan @wanitasaleha mendorong perempuan Muslim untuk mempersiapkan diri menjadi calon isteri yang baik dan shaliha.

Pernikahan merupakan suatu keputusan besar, sebab dibutuhkan keberanian dan kesiapan dari berbagai aspek untuk mengambil tanggung jawab sebuah pernikahan. Namun, hal ini tidak menyurutkan kemantapan kedua mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini untuk menikah di usia muda dan menjalankan rumah tangga sembari kuliah. Vina Puspa Riani, mahasiswi jurusan Kriminologi, menikah pada bulan Juli lalu di usia 19 tahun, sedangkan Mundzir Amjad, mahasiswa jurusan Ilmu Politik, menikah pada bulan Juli tahun 2016 kemarin di usia yang sama.
            
“Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang panjang.”

Demikian Vina mengutip HR Turmudzi dan Ibnu Majah ketika ditanya soal alasan yang memantapkannya untuk menikah dengan suaminya sekarang, Hasanudin. Keduanya bertemu di acara Forum Remaja Masjid UI di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia pada Oktober 2016 lalu. Lalu di awal Januari tahun ini, sang suami mendatangi kediaman Vina untuk bertemu orang tuanya.

“Nggak pacaran samsek (sama sekali). Kita ta’aruf waktu itu, Alhamdulillah,” ujarnya. Dalam hukum Islam, berpacaran dinilai haram, sebab hal-hal yang dilakukan ketika berpacaran dikategorikan sebagai zina. Maka dari itu, tidak sedikit umat Muslim yang memilih jalur ta’aruf, dimana sang calon suami langsung meminta kepada keluarga perempuan untuk menikahinya dan melakukan perkenalan dengan didampingi keluarga kedua belah pihak.

Sama seperti Vina, Mundzir juga menjalani ta’aruf dengan isterinya. Ia pertama kali bertemu dengan sang isteri saat akad nikah. “Kita awalnya tukeran biodata, terus dapatnya orang Bandung. Nah, pakai sistem ta’aruf tadi. Jadi sebelum nikah, ngobrol-ngobrol dulu, nggak ketemu tapi. Cuma chat aja,” ujar Mundzir.

Salah satu hal utama yang menjadi dilema anak muda dalam menikah adalah karir (dalam hal ini kuliah). Komitmen yang dibutuhkan dalam berumah tangga sama tingginya dengan komitmen dalam membangun karir, sehingga mencapai keseimbangan antara kedua hal tersebut menjadi sangat sulit. Bagi Mundzir, dilema ini tidak menyurutkan niatnya, sebab ia dikuatkan oleh dukungan keluarga dan ajaran agamanya. Ia ingin menikah muda, bahkan sejak di bangku SMA, agar terhindar dari godaan untuk berbuat zina yang diharamkan dalam Islam. Di sisi lain, Vina tidak mengalami dilema serupa sebab ia telah menetapkan serangkaian prinsip terkait aspek karir dalam hidupnya yang tidak menjadi halangan baginya untuk menikah. “Jadi intinya sih, gue ada prinsip-prinsip terkait pilihan karir. Jadi nggak bertentangan sama kepentingan gue untuk menikah. Terus, gue sama suami saat ini, karena kuliah gue dan sebagainya, menunda program untuk punya anak dulu.”

Banyak perempuan yang beranggapan bahwa menikah adalah solusi untuk menghindari masalah-masalah dalam hidup, sebab pernikahan menjanjikan perlindungan dan keamanan dari berbagai aspek (spiritual, sosial, finansial). Tetapi menurut Vina, perempuan-perempuan yang memiliki niat semacam itu sebelum menikah justru keliru. “Kalau terkait masalah jadi lebih ringan atau kompleks menurut gue justru lebih kompleks, karena kita kan bakal lebih dihadapkan dengan realita kehidupan. Tapi yang terpenting kita komitmen buat sama-sama berjuang, ingat selalu niat awal kita nikah kenapa.”

Meskipun persoalan setelah berumah tangga lebih kompleks, terutama ketika dijalankan berbarengan dengan kuliah, Vina justru merasa terbantu sebab suaminya adalah lulusan FISIP UI yang berbeda dua angkatan dari Vina. Vina juga tetap termotivasi dalam komitmennya dengan sang suami ketika mengingat lagi visi rumah tangga mereka: membangun cinta, membangun surga dan menggapai ridha-Nya.

Vina yang mengagumi pasangan Rasulullah SAW dan Khadijah, serta Ali dan Fatimah pun memberikan kutipan berikut untuk merangkum kehidupan pernikahannya.

“Look, I know we have problems and that things aren’t perfect... but I love you and I would rather have an imperfect life with you than without you.”
(Lihat, aku tahu kita punya masalah dan tidak semuanya sempurna... tetapi aku mencintaimu dan aku lebih memilih untuk menjalani kehidupan yang tidak sempurna bersamamu daripada tanpamu.)

No comments

Post a Comment

© BTARI NADINE
Maira Gall