published on Radar Depok, December 20th 2017
Menikah muda memang menjadi suatu tren di masa sekarang,
terutama di kalangan umat Muslim, sebab pernikahan dianggap sebagai jalan untuk
menghindari perzinahan. Telah banyak kampanye-kampanye di media sosial yang
mendorong kaum muda untuk segera menikah, seperti @gerakannikahmuda, @nikahasik
dan @indonesiatanpapacaran. Bahkan, akun-akun seperti @sobatmuslimah dan
@wanitasaleha mendorong perempuan Muslim untuk mempersiapkan diri menjadi calon
isteri yang baik dan shaliha.
Pernikahan merupakan suatu keputusan besar, sebab
dibutuhkan keberanian dan kesiapan dari berbagai aspek untuk mengambil tanggung
jawab sebuah pernikahan. Namun, hal ini tidak menyurutkan kemantapan kedua
mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini untuk
menikah di usia muda dan menjalankan rumah tangga sembari kuliah. Vina Puspa
Riani, mahasiswi jurusan Kriminologi, menikah pada bulan Juli lalu di usia 19
tahun, sedangkan Mundzir Amjad, mahasiswa jurusan Ilmu Politik, menikah pada
bulan Juli tahun 2016 kemarin di usia yang sama.
“Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan
akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah
di muka bumi dan kerusakan yang panjang.”
Demikian
Vina mengutip HR Turmudzi dan Ibnu Majah ketika ditanya soal alasan yang
memantapkannya untuk menikah dengan suaminya sekarang, Hasanudin. Keduanya
bertemu di acara Forum Remaja Masjid UI di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia pada Oktober 2016 lalu. Lalu di awal Januari tahun ini,
sang suami mendatangi kediaman Vina untuk bertemu orang tuanya.
“Nggak
pacaran samsek (sama sekali). Kita ta’aruf waktu itu, Alhamdulillah,” ujarnya.
Dalam hukum Islam, berpacaran dinilai haram, sebab hal-hal yang dilakukan
ketika berpacaran dikategorikan sebagai zina. Maka dari itu, tidak sedikit umat
Muslim yang memilih jalur ta’aruf, dimana sang calon suami langsung meminta
kepada keluarga perempuan untuk menikahinya dan melakukan perkenalan dengan
didampingi keluarga kedua belah pihak.
Sama
seperti Vina, Mundzir juga menjalani ta’aruf dengan isterinya. Ia pertama kali
bertemu dengan sang isteri saat akad nikah. “Kita awalnya tukeran biodata,
terus dapatnya orang Bandung. Nah, pakai sistem ta’aruf tadi. Jadi sebelum
nikah, ngobrol-ngobrol dulu, nggak ketemu tapi. Cuma chat aja,” ujar Mundzir.
Salah satu hal utama yang menjadi dilema anak muda dalam
menikah adalah karir (dalam hal ini kuliah). Komitmen yang dibutuhkan dalam
berumah tangga sama tingginya dengan komitmen dalam membangun karir, sehingga
mencapai keseimbangan antara kedua hal tersebut menjadi sangat sulit. Bagi
Mundzir, dilema ini tidak menyurutkan niatnya, sebab ia dikuatkan oleh dukungan
keluarga dan ajaran agamanya. Ia ingin menikah muda, bahkan sejak di bangku
SMA, agar terhindar dari godaan untuk berbuat zina yang diharamkan dalam Islam.
Di sisi lain, Vina tidak mengalami dilema serupa sebab ia telah menetapkan
serangkaian prinsip terkait aspek karir dalam hidupnya yang tidak menjadi halangan
baginya untuk menikah. “Jadi intinya sih, gue ada prinsip-prinsip terkait
pilihan karir. Jadi nggak bertentangan sama kepentingan gue untuk menikah.
Terus, gue sama suami saat ini, karena kuliah gue dan sebagainya, menunda
program untuk punya anak dulu.”
Banyak
perempuan yang beranggapan bahwa menikah adalah solusi untuk menghindari
masalah-masalah dalam hidup, sebab pernikahan menjanjikan perlindungan dan
keamanan dari berbagai aspek (spiritual, sosial, finansial). Tetapi menurut
Vina, perempuan-perempuan yang memiliki niat semacam itu sebelum menikah justru
keliru. “Kalau terkait masalah jadi lebih ringan atau kompleks menurut gue
justru lebih kompleks, karena kita kan bakal lebih dihadapkan dengan realita
kehidupan. Tapi yang terpenting kita komitmen buat sama-sama berjuang, ingat
selalu niat awal kita nikah kenapa.”
Meskipun
persoalan setelah berumah tangga lebih kompleks, terutama ketika dijalankan
berbarengan dengan kuliah, Vina justru merasa terbantu sebab suaminya adalah
lulusan FISIP UI yang berbeda dua angkatan dari Vina. Vina juga tetap
termotivasi dalam komitmennya dengan sang suami ketika mengingat lagi visi
rumah tangga mereka: membangun cinta, membangun surga dan menggapai ridha-Nya.
Vina yang mengagumi
pasangan Rasulullah SAW dan
Khadijah, serta Ali dan
Fatimah pun memberikan kutipan berikut untuk merangkum kehidupan pernikahannya.
“Look,
I know we have problems and that things aren’t perfect... but I love you and I
would rather have an imperfect life with you than without you.”
(Lihat, aku tahu kita
punya masalah dan tidak semuanya sempurna... tetapi aku mencintaimu dan aku
lebih memilih untuk menjalani kehidupan yang tidak sempurna bersamamu daripada
tanpamu.)